31 Maret 2009

Mengemas Materi Pendampingan Teknologi dalam Penyuluhan Pertanian

Perubahan paradigma yang beralih pada pemberdayaan petani sudah seharusnya menjadi kepedulian bagi penyuluh pertanian dalam memberikan fasilitasi pendampingan teknologi yang dikemas dalam berbagai metoda dan media informasi pertanian.

Jaman sudah berbeda dan itulah kondisi nyata yang harus dihadapi oleh penyuluh pertanian pada periode Revitalisasi Penyuluhan Pertanian. Kegiatan Penyuluhan pertanian diera Revitalisasi Penyuluhan Pertanian yang sedang berjalan saat ini sudah tidak bisa lagi disamakan sebagaimana pelaksanaan penyuluhan pertanian dimasa masa yang lalu, petani akan menerima satu rangkaian paket dari penyandang dana sebagai pemilik program dan petani hanya dituntut berperan sebagai pelaku kegiatan tanpa harus dipusingkan dengan butuh tidaknya kegiatan tersebut bagi petani.

Menjadi penyuluh pertanian diera Revitalisasi penyuluhan pertanian sekarang ini dituntut mampu menjadi mitra kerja petani dengan memberikan fasilitasi pendampingan teknologi yang sesuai kebutuhan petani. Artinya seorang penyuluh pertanian dalam melaksanakan tugas fungsinya sekarang ini sudah dituntut beralih pada orientasi kebutuhan pendampingan teknologi yang diperlukan oleh petani di WKPP (Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian) dengan penyampaian materi dikemas dalam penyuluhan pertanian.

Penyuluh pertanian mempunyai kewenangan bertanggung jawab dengan Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian biasa dikenal sebagai WKPP yang umumnya berada di wilayah perdesaan. Dan pada kenyataannya desalah yang mampu menjadi daerah penghasil sumber bahan pangan dengan beragam jenis hasil produksi pertaniannya, ini artinya masyarakat pedesaan sekarang ini masih membutuhkan peran penyuluh pertanian dalam melakukan pendampingan teknologi kepada para petani sebagaimana pengalaman masa jayanya keberhasilan berswasembada beras tahun 1984 lalu.

Pendampingan teknologi kepada petani yang dilakukan penyuluh pertanian di era revitalisasi penyuluhan pertanian sekarang ini harus berorientasi pada sinerginitas kebutuhan petani dengan didukung potensi yang ada di wilayah lingkungan usahatani dan adanya peluang pasar yang akan menampung hasil produksi pertanian nantinya, artinya untuk melakukan proses produksi pertanian petani harus berfokus pada adanya peluang pasar, memiliki potensi sumberdaya pendukung agar nantinya petani tidak akan mengalami adanya kesulitan dikemudian harinya.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 0815 8441 4991

28 Maret 2009

Indonesia Kekurangan Pebisnis Produk Pertanian Level Dunia


Indonesia sangat disayangkan hingga kini kekurangan para pebisnis produk pertanian level menengah ke atas termasuk level dunia, dan kecenderungannya yang ada hanya pebisnis level menengah ke bawah sehingga pedagang-pedagang di tingkat duniapun bukan dipegang orang Indonesia hingga akibatnya margin yang diterima kecil.

Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengungkapkan hal itu di Jakarta, pada Press Conference dan Technical Meeting menjelang penyelenggaraan Agrinex Expo 2009 mendatang di Jakarta, yakni sebuah pameran agribisnis yang dikemas dengan kegiatan lain.

Betapa sedihnya kita, kata Menteri Pertanian, ketika mengetahui produk-produk pertanian Indonesia lari ke Singapura dan akhirnya ke negara lain hanya dikarenakan Indonesia kekurangan pebisnis produk pertanian.

Namun pihaknya optimis, Indonesia akan mampu bermain di tingkat regional bahkan suatu saat ke tingkat internasional, dan itu sudah dibuktikan untuk produk perkebunan seperti sawit, karet dan kakao. Karena itu sudah saatnya untuk meningkatkan komoditas yang lain seperti hortikultura, pangan, peternakan sapi, dan untuk menuju ke sana masih membutuhkan upaya keras.

Ia juga mengatakan, dengan potensi yang ada maka Indonesia sangat mungkin untuk bermain di tingkat regional. Potensi sumberdaya alam ada dan potensi yang ada masih bisa ditingkatkan apalagi berbicara masalah perluasan, sebagai contoh, ratusan ribu hektar rawa lebak di Sumatera, Kalimantan belum tergali. “Di kalimantan masih 2 juta hektar yang belum dioptimalkan, belum lagi farm buah-buahan di Merauke yang didorong terus dan sampai kini belum terealisir”, katanya.

Pertanian istilahnya adalah nyawa karena punya SDA dan SDM yang keduanya kadang-kadang tidak dimiliki negara lain. Jepang punya SDM luar biasa tapi SDA terbatas, demikian pula Israel Thailand tapi kenyataan negara-negara tersebut dapat maju, sementara Indonesia punya keduanya sehingga dibilang kufur kalau keduanya tidak bisa dioptimalkan.

Sumber : sinartani.com

25 Maret 2009

tahukah anda?!

Bawang Putih Berkhasiat Anti Kanker
Bawang putih (Allium sativum) atau sering disebut garlic sudah lama dikenal sebagai salah satu bumbu masakan. Tanaman ini juga berkhasiat secara empiris untuk mengatasi berbagai penyakit. Tanaman ini mengandung khasiat antimikroba, antitrombotik, hipolipidemik, antiarthritis, hipoglikemik, dan juga memiliki antivitas sebagai antitumor. Dalam tanaman ini terkandung sejenis minyak atsiri yang baunya menyengat hidung, yaitu metil alil disulfida. Selain itu, bawang putih juga mengandung lemak, protein, karbohidrat, vitamin B1 dan C, serta beberapa enzim. Potensi bawang putih juga sangat baik untuk mengobati dan mencegah kanker. Beberapa penelitian yang dilakukan oleh PT Totalcare Nutraceutical (PTN), memperlihatkan aktivitas kemopreventif dengan menggunakan preparat bawang putih.
Sumber: Republika Online, Selasa 23 Maret 2004
Purwoceng, tanaman langka berkhasiat tinggi
Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk) termasuk tanaman langka karena habitat endemiknya di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Tanaman ini potensial sebagai komplemen untuk afrodisiak dan substitusi ginseng Korea serta viagra. Hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITTRO) di Bogor menunjukkan bahwa akar dan daun purwoceng mengandung steroid (stigmasterol dan sitosterol), turunan kumarin serta vitamin E.
Purwoceng sangat prospektif sebagai sumber bahan baku industri suplemen minuman yang berfungsi untuk meningkatkan vitalitas tubuh. Sedangkan kandungan vitamin E dalam purwoceng dapat dimanfaatkan sebagai bahan kosmetika untuk peremajaan sel-sel tubuh dan memperbaiki kesuburan wanita.
Sumber: Buku Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Tanaman Obat, Pusat Litbang Perkebunan
Adas Obat Rematik
Salah satu rempah yang memiliki khasiat sebagai obat adalah tanaman adas (Foeniculum vulgare). Tanaman ini berbentuk rumpun dengan ketinggian mencapai 3 meter. Daunnya berbentuk jarum, berwarna hijau keputihan. Bunganya berbentuk payung majemuk, berwarna kuning yang keluar dari ujung batang. Buahnya mempunyai bau khas aromatik dan bijinya berasa pedas. Perbanyakan tumbuhan bisa dilakukan dengan biji atau memisah anak tanaman. Masalah kesehatan yang bisa diatasi dengan adas adalah rematik.
Untuk mengatasi rematik, adas dan daun senggugu segar ditumbuk halus lalu dibalurkan pada bagian tubuh yang sakit. Selain itu, 5 gram adas, 5 gram pulasari, 30 gram daun sosor bebek, gula aren secukupnya, direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc, lalu disaring dan diminum airnya. Lakukan dua kali sehari.
Sumber: Republika Online, Selasa 28 Januari 2003
Bioteknologi bukan hanya tanaman pangan transgenik
Kebanyakan masyarakat mengasosiasikan bioteknologi dengan tanaman pangan trangenik atau produk-produk hasil rekayasa genetik. Oleh karena itu sering timbul kontroversi terhadap produk bioteknologi bahkan tidak sedikit yang anti dengan bioteknologi. Padahal bioteknologi bukan hanya itu. Bioteknologi mencakup teknik pemuliaan, bioinformatika, mikrobiologi, genetika molekuler, biokimia, fisiologi tanaman, dan biologi molekuler.
Prinsip-prinsip bioteknologi sebenarnya telah dimanfaatkan sejak awal abad 20 di mana para petani menghasilkan varietas baru maupun membuat bahan makanan seperti yoghurt, cuka, sake, kecap dan tempe. Dalam era modern sekarang ini, bioteknologi menghasilkan cara-cara baru memperbaiki suatu produk bahkan menghasilkan produk yang sebelumnya tidak ada. Bioteknologi sangat berpeluang menghasilkan perbaikan-perbaikan di bidang kedokteran, pengelolaan lingkungan, produksi makanan dan pertanian. Penerapan bioteknologi untuk pertanian dan lingkungan mencakup pemuliaan tanaman, kultur jaringan dan micropropagasi, molecular breeding, rekayasa genetika, diagnostik hama tanaman, fermentasi mikroba.
Badan Litbang Pertanian sendiri mempunyai institusi Balitbiogen (www.indobiogen.or.id) yang mempunyai tugas dan mandat untuk melaksanakan kegiatan penelitian bioteknologi dan sumberdaya genetik pertanian.
Sumber: http://www.indobiogen.or.id/, http://www.isaaa.org/kc/bin/publications/agribiotech/index.htm.
Museum Tanah, Wisata Iptek yang Menarik
Kalau disebut kota Bogor umumnya orang akan mengasosiasikan dengan Kebun Raya, yang memang layak untuk tempat rekreasi disamping juga sebagai sumber pengetahuan. Mungkin belum banyak yang tahu bahwa selain Kebun Raya, Bogor memiliki museum tanah. Memang tanah tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Tapi tahukah anda seperti apakah jenis tanah yang ada di lingkungan kita? Bagaimana pula peneliti bisa menentukan klasifikasi tanah dan apa manfaatnya ? Berkunjung ke museum tanah akan mendapatkan informasi terkait dengan pertanyaan tersebut. Kunjungan ke museum tanah dapat dimasukkan sebagai suatu wisata iptek. Pengunjung umumnya dari kalangan pelajar dan mahasiswa, meski tak sedikit pula pengunjung dari masyarakat umum.
Lokasi museum tanah ada di depan kebun raya, tepatnya berada di lingkungan kantor Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan, Badan Litbang Pertanian. Museum tanah tersebut resminya berdiri pada tanggal 29 September 1988 bekerjasama dengan International Soil Reference and Information Centre (ISRIC) Wageningen Belanda. Koleksi utama museum tanah adalah model atau contoh berbagai macam tanah yang ada di Indonesia. Tanah yang disimpan berupa irisan penampang tanah secara vertikal berupa makromonolit tanah berukuran 150 x 25 x 4 cm3. Selain itu museum tanah dilengkapi dengan data tentang lokasi, klasifikasi tanah, peralatan survai, peta, dan beberapa informasi penunjang lainnya.
Museum tanah menerima kunjungan baik perorangan maupun rombongan setiap hari kerja. Saat ini museum tanah di bawah pengelolaan Balai Penelitian Tanah, Jl. Ir.H. Juanda 98, Bogor, email:
soil-ri@indo.net.id,

17 Maret 2009

Pertanian

Pertanian

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Gambaran klasik pertanian di Indonesia

Pertanian adalah proses menghasilkan bahan pangan, ternak, serta produk-produk agroindustri dengan cara memanfaatkan sumber daya tumbuhan dan hewan. Pemanfaatan sumber daya ini terutama berarti budi daya (bahasa Inggris: cultivation, atau untuk ternak: raising). Namun demikian, pada sejumlah kasus — yang sering dianggap bagian dari pertanian — dapat berarti ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan (bukan agroforestri).

Usaha pertanian memiliki dua ciri penting: (1) selalu melibatkan barang dalam volume besar dan (2) proses produksi memiliki risiko yang relatif tinggi. Dua ciri khas ini muncul karena pertanian melibatkan makhluk hidup dalam satu atau beberapa tahapnya dan memerlukan ruang untuk kegiatan itu serta jangka waktu tertentu dalam proses produksi. Beberapa bentuk pertanian modern (misalnya budidaya alga, hidroponika) telah dapat mengurangkan ciri-ciri ini tetapi sebagian besar usaha pertanian dunia masih tetap demikian.

Terkait dengan pertanian, usaha tani (farming) adalah sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budi daya (tumbuhan maupun hewan). Petani adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani, sebagai contoh "petani tembakau" atau "petani ikan". Khusus untuk pembudidaya hewan ternak (livestock) disebut sebagai peternak. Ilmuwan serta pihak-pihak lain yang terlibat dalam perbaikan metode pertanian dan aplikasinya juga dianggap terlibat dalam pertanian.

Bagian terbesar penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4% dari PDB dunia. Berdasarkan data BPS tahun 2002, bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk meskipun hanya menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto.[1]

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Pendahuluan

Cakupan obyek pertanian yang dianut di Indonesia meliputi budidaya tanaman (termasuk tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan), kehutanan, peternakan, dan perikanan. Sebagaimana dapat dilihat, penggolongan ini dilakukan berdasarkan objek budidayanya:

  • budidaya tanaman, dengan obyek tumbuhan dan diusahakan pada lahan yang diolah secara intensif,
  • kehutanan, dengan obyek tumbuhan (biasanya pohon) dan diusahakan pada lahan yang setengah liar,
  • peternakan, dengan obyek hewan darat kering (khususnya semua vertebrata kecuali ikan dan amfibia),
  • perikanan, dengan obyek hewan perairan (ikan, amfibia dan semua non-vertebrata).

Pembagian dalam pendidikan tinggi sedikit banyak mengikuti pembagian ini, meskipun dalam kenyataan suatu usaha pertanian dapat melibatkan berbagai objek ini bersama-sama sebagai bentuk efisiensi dan peningkatan keuntungan. Pertimbangan akan kelestarian lingkungan mengakibatkan aspek-aspek konservasi sumber daya alam juga dipelajari dalam ilmu-ilmu pertanian.

Dari sudut keilmuan, semua objek pertanian sebenarnya memiliki dasar-dasar yang sama karena pada dasarnya usaha pertanian adalah kegiatan ekonomi:

  • pengelolaan tempat usaha,
  • pemilihan bibit,
  • metode budidaya,
  • pengumpulan hasil,
  • distribusi,
  • pengolahan dan pengemasan,
  • pemasaran.

Sebagai kegiatan ekonomi, pertanian dapat dipandang sebagai suatu sistem yang dinamakan agribisnis. Dalam kerangka berpikir sistem ini, pengelolaan tempat usaha dan pemilihan bibit (varietas, galur, dan sebagainya) biasa diistilahkan sebagai aspek "hulu" dari pertanian, sementara distribusi, pengolahan, dan pemasaran dimasukkan dalam aspek "hilir". Budidaya dan pengumpulan hasil merupakan bagian dari aspek proses produksi. Semua aspek ini penting dan bagaimana investasi diarahkan ke setiap aspek menjadi pertimbangan strategis.

[sunting] Upaya meningkatkan hasil pertanian

Upaya meningkatkan hasil pertanian dapat dilakukan dengan cara:

[sunting] Sejarah singkat pertanian dunia

Lihat pula artikel utama tentang Sejarah pertanian.

Daerah "bulan sabit yang subur" di Timur Tengah. Di tempat ini ditemukan bukti-bukti awal pertanian, seperti biji-bijian dan alat-alat pengolahnya.

Domestikasi anjing diduga telah dilakukan bahkan pada saat manusia belum mengenal budidaya (masyarakat berburu dan peramu) dan merupakan kegiatan peternakan yang pertama kali.

Kegiatan pertanian (budidaya tanaman dan ternak) merupakan salah satu kegiatan yang paling awal dikenal peradaban manusia dan mengubah total bentuk kebudayaan. Para ahli prasejarah umumnya bersepakat bahwa pertanian pertama kali berkembang sekitar 12.000 tahun yang lalu dari kebudayaan di daerah "bulan sabit yang subur" di Timur Tengah, yang meliputi daerah lembah Sungai Tigris dan Eufrat terus memanjang ke barat hingga daerah Suriah dan Yordania sekarang. Bukti-bukti yang pertama kali dijumpai menunjukkan adanya budidaya tanaman biji-bijian (serealia, terutama gandum kuna seperti emmer) dan polong-polongan di daerah tersebut. Pada saat itu, 2000 tahun setelah berakhirnya Zaman Es terakhir di era Pleistosen, di dearah ini banyak dijumpai hutan dan padang yang sangat cocok bagi mulainya pertanian. Pertanian telah dikenal oleh masyarakat yang telah mencapai kebudayaan batu muda (neolitikum), perunggu dan megalitikum. Pertanian mengubah bentuk-bentuk kepercayaan, dari pemujaan terhadap dewa-dewa perburuan menjadi pemujaan terhadap dewa-dewa perlambang kesuburan dan ketersediaan pangan.

Teknik budidaya tanaman lalu meluas ke barat (Eropa dan Afrika Utara, pada saat itu Sahara belum sepenuhnya menjadi gurun) dan ke timur (hingga Asia Timur dan Asia Tenggara). Bukti-bukti di Tiongkok menunjukkan adanya budidaya jewawut (millet) dan padi sejak 6000 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Asia Tenggara telah mengenal budidaya padi sawah paling tidak pada saat 3000 tahun SM dan Jepang serta Korea sejak 1000 tahun SM. Sementara itu, masyarakat benua Amerika mengembangkan tanaman dan hewan budidaya yang sejak awal sama sekali berbeda.

Hewan ternak yang pertama kali didomestikasi adalah kambing/domba (7000 tahun SM) serta babi (6000 tahun SM), bersama-sama dengan domestikasi kucing. Sapi, kuda, kerbau, yak mulai dikembangkan antara 6000 hingga 3000 tahun SM. Unggas mulai dibudidayakan lebih kemudian. Ulat sutera diketahui telah diternakkan 2000 tahun SM. Budidaya ikan air tawar baru dikenal semenjak 2000 tahun yang lalu di daerah Tiongkok dan Jepang. Budidaya ikan laut bahkan baru dikenal manusia pada abad ke-20 ini.

Budidaya sayur-sayuran dan buah-buahan juga dikenal manusia telah lama. Masyarakat Mesir Kuna (4000 tahun SM) dan Yunani Kuna (3000 tahun SM) telah mengenal baik budidaya anggur dan zaitun.