
| Thursday, 19 March 2009 23:38 |
| Mataram, 16/3 (Regional.Roll) - Bank Dunia (World Bank) memberikan dana hibah sebesar Rp4,8 miliar kepada Kabupaten Lombok Barat (Lobar), Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk meningkatkan kapasitas penyuluh pertanian. Bantuan hibah tersebut dikemukakan oleh Pejabat Pengambil Kebijakan (PPK) Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan dan Ketahanan Pangan Daerah (BP4KKPD) Lobar Lalu Karman Yamin, SP, di sela kegiatan pelatihan teknis bagi penyuluh lapangan di Mataram, Senin. "Kegiatan pelatihan teknis bagi penyuluh lapangan yang berlangsung selama 14 hari ini adalah salah satu bentuk program kami yang bersumber dari dana hibah yang diberikan oleh Bank Dunia," katanya. Dia mengatakan upaya meningkatkan kualitas dan kemampuan tenaga penyuluh lapangan perlu dilakukan terutama dalam hal pemasaran hasil pertanian, teknologi budidaya dan cara membantu petani mencari sumber modal untuk usaha tani mereka. Beberapa jenis komoditas yang akan difokuskan sebagai bahan pelatihan adalah ternak sapi, kacang tanah dan jagung. "Kami memfokuskan tiga komoditas yang dianggap perlu untuk dikembangkan secara intensif di daerah dan ini juga merupakan salah satu program pemerintah NTB yaitu menjadikan NTB sebagai bumi sejuta sapi," katanya. Dia mengatakan, jumlah penyuluh lapangan yang bisa mengikuti pelatihan teknis hanya 75 orang dari sekitar 149 penyuluh lapangan yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Lobar. "Tidak semua penyuluh lapangan PNS yang ada di Lobar mendapatkan pelatihan teknis ini, karena disesuaikan dengan potensi yang ada di wilayah kerjanya," katanya. Yamin mencontohkan Kecamatan Narmada dan Lingsar merupakan sentra produksi kacang tanah di Lobar, sehingga penyuluh lapangan di wilayah itu perlu diberikan pelatihan untuk mendukung kinerjanya dalam membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi petani kacang tanah. Para penyuluh yang mengikuti pelatihan teknis diberikan teori sebesar 20 persen oleh pengajar dari pihak swasta untuk masalah pemasaran, materi teknologi budidaya dari Balai Penelitian dan Teknologi Pertanian NTB dan materi penyediaan modal dilakukan oleh pihak Bank Rakyat Indonesia (BRI). "Jadi 80 persen kegiatan pelatihan ini adalah praktik agar peserta bisa lebih memahami materi yang diberikan dari berbagai pihak yang terkait dengan program ini," katanya. ( Older news items:
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar